Puisi

     Api di Dada Pemuda
(Tema: “Mimpi Pemuda dalam Membangun Bangsa”)

By: AGUSTINA IKENG

Di pagi yang bening,
ketika embun masih menggantung di ujung daun,
seorang pemuda berdiri menatap langit timur.
Mentari terbit dengan janji baru —
janji tentang masa depan bangsa
yang menunggu untuk dibangun,
bukan dengan kata-kata,
melainkan dengan karya dan cinta.

Ia adalah anak zaman,
lahir dari rahim Ibu Pertiwi yang letih,
tumbuh di tengah hiruk pikuk dunia yang berubah.
Namun di matanya,
masih ada cahaya yang tak pernah padam —
cahaya mimpi,
cahaya perjuangan.

“Negeriku besar,” katanya pelan,
“tapi masih banyak yang haus ilmu,
masih banyak yang lapar keadilan,
masih banyak yang kehilangan arah.”

Lalu ia menggenggam tanah,
menatap sawah, laut, dan gunung di kejauhan,
seraya berbisik dalam hati:

“Aku akan mulai dari sini,
dari langkah kecilku,
dari mimpi yang tak akan kubiarkan mati.”

Pemuda itu bukan pahlawan,
ia hanya seorang biasa,
namun di dadanya berkobar api luar biasa.
Ia menolak tunduk pada rasa takut,
menolak diam di tengah kemalasan,
menolak menyerah pada keadaan.

Ia belajar, ia bekerja.
Ia jatuh — ia bangkit kembali.
Ia tahu, membangun bangsa bukan sekadar berbicara,
melainkan berbuat dalam senyap,
dan percaya pada hati yang lahir dari kesungguhan.

Ia bermimpi
tentang anak-anak yang tertawa di sekolah tanpa getir,
tentang petani yang sejahtera di tanahnya sendiri,
tentang laut yang dijaga dengan hati,
tentang kota yang ramah,
tentang desa yang mandiri,
tentang pemimpin yang jujur
dan rakyat yang sadar diri.

Bagi pemuda itu,
membangun bangsa bukan tugas satu hari,
melainkan perjalanan panjang
yang dimulai dari keberanian untuk bermimpi.

Ia menulis cita di udara,
menanam harapan di dada generasi muda.
Ia tahu, setiap langkah kecil
adalah batu-batu bagi masa depan Indonesia.

Dan ketika malam tiba,
di bawah bintang yang berkelip pelan,
ia menatap merah putih yang berkibar di langit,
seraya berkata dengan suara bergetar:

“Selama api di dada pemuda masih menyala,
bangsa ini takkan pernah padam.
Selama mimpi masih hidup dalam jiwa,
Indonesia akan terus berjuang.”

Aku, kau, dan mereka —
adalah nyala kecil
yang menjaga cahaya bangsa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *