Karya : LAURENSIA SULA (XI B)
Intan menatap matahari terbenam dari jendela kamarnya. Cahaya tersebut sangat indah dengan warna jingga dan semburat ungu yang lembut. Hamparan sawah yang begitu hijau dengan mengajukan mata membuat hati Intan tenang. Meskipun begitu, Intan menyimpan mimpi besar yang tak pernah padam untuk melanjutkan pendidikan di kota besar meninggalkan desa ini. Desa yang Intan tinggali memang indah, tetapi fasilitas pendidikannya begitu terbatas. Sekolah menengah terdekat harus ditempuh dengan berjalan kaki jauh 5 km. Tiap hari Intan harus bangun pagi agar bisa sampai sekolah sebelum bel berbunyi.
Orang tua Intan hanyalah petani yang bekerja keras untuk melindungi dan menghidupi keluarganya. Meskipun begitu, mereka sangat support untuk mendukung mimpi Intan. “Anakku…, pendidikan itu lebih berharga dari apapun.” Ayah dan Ibu pun berusaha untuk bisa membiayai sekolahnya. Ayah dengan Ibu penuh semangat untuk memberikan yang terbaik kepada anaknya. Intan sangat bersyukur memiliki orang tua yang sangat mendukung dan menyayanginya. Tetapi, Intan khawatir akan membebani mereka berdua.
Intan ingin membuktikan kepada orang tuanya kalau dirinya mampu meraih cita-citanya tanpa harus membebani mereka berdua. Intan pun mulai aktif belajar dengan melakukan belajar tambahan dengan teman-temannya. Ia pun juga aktif untuk melakukan kegiatan ekstrakurikuler serta lomba di sekolah. Suatu hari Intan mendapatkan kabar gembira yaitu dirinya mendapatkan beasiswa gratis untuk kuliah di kota. Dengan rasa haru, Intan sangat bahagia akhirnya cita-citanya terwujud. Perjuangan selama ini tidak sia-sia.
