cerpen siswa

ANGEL, GADIS PENYELAMAT

Part 1

Di pagi yang cerah, SMA Negeri 1 Lebatukan, tepatnya di pojok kelas XA. Terlihat seorang siswi perempuan yang bernama Angela. Yang sedang duduk menyendiri. Angela merupakan siswi kelas XA yang berumur 16 tahun. Angela ini setiap paginya sebelum masuk ke kelas, ia selalu duduk di pojokan kelasnya sendiri. Angela selalu merasa ada yang salah dengan dirinya. Bukan karena ia bodoh, justru ia memiliki prestasi yang luar biasa dalam bidang seni musik. Seperti bermain gitar, menyanyi, dan melukis.

Masalahnya adalah, keunikan fisiknya (pada bagian gigi yang menonjol) membuat ia sering diejek. Hal ini Yang membuatnya sangat sedih. Gigi yang menonjol adalah bawaan lahir, menjadi senjata utama teman-temannya untuk merundungnya.

“Hai kau, gigimu seperti pagar yang tidak rapi,” ucap si Ayu, teman-temannya yang dikenal sebagai orang yang suka mem-bully.

“dia kalau senyum bikin saya jijik,” ucap para teman-teman lainnya yang berbicara di belakang Angela, diikuti tawa-tawa dari yang lainnya dari belakang yang mengerumuni.

Setiap ejekan adalah pisau yang perlahan menghancurkan mimpinya. Setiap panggilan “nama” adalah rantai yang mengikatnya jauh dari ruang musik.

Angela sebenarnya ingin sekali bergabung dengan ekstrakurikuler seni musik di sekolah, tetapi rasa takut membuatnya selalu diam di sudut. Karena para pembullying juga termasuk dalam ekstrakurikuler seni musik.

Rasa sakit ini mencapai puncaknya, hingga Angela tidak masuk sekolah selama tiga hari. Ia memilih bersembunyi di rumah, jauh dari tatapan dan ejekan teman-temannya.

Part 2

Pak Edo adalah guru yang disegani. Selain pandai dalam mengajar, ia juga sangat peduli dengan murid-muridnya. Di hari ketiga Angela tidak masuk sekolah, Pak Edo memutuskan untuk menjenguknya. Di rumah Angela, Pak Edo melihat sebuah foto Angela sedang tersenyum lebar sambil memegang gitar.

“Kenapa kamu tidak masuk sekolah, Nak?” tanya Pak Edo.

Angela menunduk, air matanya mulai menggenang. “Saya malu, Pak. Mereka bilang saya jelek,” jawab Angela dengan suara bergetar. Pak Edo tersenyum hangat. “Angela, kecantikan sejati tidak terlihat dari fisik, tetapi dari hati dan apa yang kamu lakukan untuk orang lain.” Pak Edo menceritakan kisah seorang gadis yang dulunya juga diejek karena fisiknya, namun ia tidak menyerah. Ia terus mengembangkan bakatnya hingga menjadi seniman terkenal dan menginspirasi banyak orang.

“Kamu punya bakat luar biasa, Angela. Jangan biarkan ejekan mereka merenggut impianmu. Saya percaya kamu bisa menjadi bintang yang bersinar,” ucap Pak Edo menyemangati.

Mendengar kata-kata Pak Edo, semangat Angela kembali bangkit. Ia memutuskan untuk tidak lagi peduli dengan ejekan teman-temannya.

Part 3

Keesokan harinya, Angela kembali ke sekolah. Ia menemui Pak Edo dan menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan ekstrakurikuler seni musik. Pak Edo tersenyum bangga. Angela berlatih keras, didukung penuh oleh Pak Edo dan teman-teman barunya di ekstrakurikuler. Ia menampilkan bakatnya dengan gemilang di berbagai acara sekolah, bahkan mewakili sekolah dalam festival musik tingkat kabupaten.

Ejekan teman-temannya kini berubah menjadi kekaguman. Ayu dan Beni, yang dulunya sering mem-bully, akhirnya meminta maaf kepada Angela. Angela memaafkan mereka

dan mereka pun berteman baik. Melalui Angela, Pak Edo menyampaikan pesan penting kepada seluruh siswa, bahwa setiap individu memiliki keunikan dan bakatnya masing-masing. Penting untuk menghargai dan mendukung satu sama lain, bukan merendahkan.

Beberapa minggu kemudian, Angela bergabung dengan ekstrakurikuler seni musik.

Dengan dukungan Pak Edo, Ayu, Beni dan teman-teman akhirnya menjadi motivasi bagi dirinya.

Dan pada akhir tahun, Angela tampil dengan kemunculan perawan gitar nya, tiap nada, petikan gitar yang lembut, dan suara yang menggema untuk dirinya dan semua orang. Angela membuktikan bahwa kekuatan sejati pemuda bangsa terletak pada bakat, bukan pada kecarut-marutan fisik. Dari sini Angela mengalami ini baru perlawanan dari kontribusinya bagi diri, sekolah, dan semua orang.

Nama : HELENA SABU

 kelas

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *